Di era modern seperti
ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal Pangkalpinang, entah
karena wawasan rakyat Indonesia yang minim atau pembangunan dan kreatifitas
pemerintah dan masyarakat Pangkalpinang yang tidak berkembang sehingga kota Pangkalpinang
bak tenggelam dalam permukaan. Mengapa dikatakan bak tenggelam dalam permukaan,
karena hampir semua masyarakat baik itu lokal ataupun domestik tahu betul
mengenai “laskar pelangi” yang merupakan sebutan untuk provinsi kepulauan
Bangka Belitung. Padahal Pangkalpinang memiliki andil besar bagi pembangunan di
provinsi kepulauan Bangka Belitung yang merupakan ibukota provinsi yang menjadi
pusat aktivitas pemerintahan,ekonomi,sosial dan budaya serta teknologi.
Pentingnya keberadaan kota Pangkalpinang bagi provinsi kepualauan Bangka
Belitung bukan hanya karena sebagai ibukota provinsi tetapi juga sebagai pusat
pengembangan kebudayaan yang sudah berabad-abad lamanya mempertahankan budaya
dan adat istiadat serta sebagai bukti bahwa etnis melayu dan tionghoa merupakan
ikon bagi provinsi kepulauan Bangka Belitung terkhusus bagi kota Pangkalpinang.
Jika masyarakat Indonesia lainnya yang beranggapan “miring” terhadap etnis
tionghoa maka lain ceritanya dengan masyarakat melayu Pangkalpinang. Hal ini
bukanlah semata-mata karena masyarakat melayu dan tionghoa Pangkalpinang sudah
lama hidup berdampingan, melainkan karena mereka memiliki toleransi yang besar
antara satu dengan yang lainnya, bahkan sejak dulu etnis tionghoa memiliki perkampungannya
sendiri. Bukti lainnya bahwa kota Pangkalpinang memiliki “factor-x” adalah bisa
dikatakan etnis melayu dan tionghoa merupakan jantung kota Pangkalpinang,
mengapa demikian?, hal ini dikarenakan adat-istiadat dan budaya sudah mendarah
daging dimasyarakat sehingga secara tidak sadar hukum adat dan budaya sudah
berganti menjadi hukum bermasyarakat dan sosial dan uniknya lagi hal ini
berjalan lurus dengan keseharian masyarakat tanpa ada masalah-masalah dan
pertentangan yang ditimbulkan akibat peraturan “batin” tersebut. Hal ini tidak
terlepas dari adanya sejarah awal kelahiran hingga berkembangnya etnis melayu
dan tionghoa di Pangkalpinang. Karena tidak mungkin apabila suatu hal muncul
begitu saja tanpa adanya sebuah sebab yang mendasari. Sebenarnya, banyak sekali
pendapat para ahli dan sejarawan mengenai munculnya etnis melayu dan tionghoa
di pangkalpinang, salah satunya adalah cerita yang fenomenal dikalangan
masyarakat yaitu ketika Cheng Ho
(Zheng He) (tahun 1371 – 1435 SM), seorang Muslim yang lahir di provinsi Yuan
mengadakan perjalanan sebanyak 7 (tujuh) kali dalam 28 Tahun. Cheng Ho
mengunjungi Gersik, Tuban, Lasem, Semarang, Jakarta, Palembang, Aceh dan
Bangka, salah satu peninggalan ekspedisi Cheng Ho adalah teknologi pembuatan
kapal atau perahu dan bangunan-bangunan yang berarsitektur China. Gelombang
besar kedatangan bangsa Cina untuk mengeksploitasi timah di Bangka di mulai
pada awal abad 20, banyak kongsi-kongsi dagang yang berdiri untuk menambang dan
memperjual belikan timah, setiap kelompok atau kongsi memiliki pimpinan dan
struktur sosialnya sendiri, mereka juga membawa kepercayaan asli darimana
mereka berasal. Untuk melakukan
pemujaan sesuai dengan aliran yang dianut mereka membangun Kelenteng, misalnya
pada kelenteng Kwan Tie Bio. Pada Kelenteng tertua di Pangkalpinang ini
terdapat hiasan buah Labu (Gourd) di puncak atap kelenteng dan adanya lambang
Patkwa (Pakua) di depan kelenteng yang di tengahnya ada lingkaran hitam putih
(Ying dan Yang), Patkwa (Pakua) melambangkan keberuntungan, rejeki atau
kebahagiaan. Dua ciri di atas menunjukkan bahwa aliran Taoisme masih merupakan
yang terpenting. Bukti kuat bahwa Cheng Ho datang kePangkalpinang adalah . Nama
kelenteng sudah dua kali mengalami perubahan, pada masa Orde Baru kelenteng ini
bernama Amal Bhakti. Pada tahun 1986 bagian depan kelenteng terkena pelebaran
jalan sehingga pekarangan depan, pintu serta tembok depan mundur beberapa
meter, bagian altar Kuan Tie tetap utuh dan bagian depan dibangun menjadi 2
lantai. Pada tahun 1991 bagian belakang kelenteng diubah menjadi tempat tidur
petugas dan dapur. Pada Tanggal 22 Februari 1998 terjadi kebakaran yang
menghanguskan seluruh bangunan kelenteng kecuali pada bagian kiri bangunan,
sejak itu dilakukanlah pemugaran kembali dipimpin oleh Jamal seorang ahli dalam
kelenteng dan pembuatan patung dan rehabilitasi selesai seperti bentuk sekarang
serta diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1999 dengan nama kelenteng Kwan Tie
Miau. Kelenteng ini diperkirakan dibuat pada tahun 1841 Masehi (dari aksara
cina pada sebuah Lonceng besi di kelenteng). Pembangunannya sendiri dilakukan
secara gotong royong oleh berbagai kelompok Kongsi penambangan timah yang ada
di Pangkalpinang, dan diresmikan pada tahun 1846, hal ini terbukti dari ucapan
selamat dari beberapa perkumpulan Kongsi pada hari baik bulan baik tahun ke- 26
Daoguang yang bertepatan dengan tahun 1846. Kawasan Kelenteng Kwan Tie Miaw ini
sekarang ditambah dengan lokasi Gang Singapur dan Pasar Mambo yang sedang
dikondisikan sebagai salah satu Objek wisata kota Pangkalpinang yaitu Wisata Budaya
dan Wisata Belanja. Lokasi ini diupayakan menjadi China Town (untuk mengingatkan
kepada wajah lama kota Pangkalpinang yang sangat dipengaruhi oleh rumah-rumah
dan kelenteng Cina) dan dijadikan juga sebagai pusat upacara peringatan hari
Raya Imlek, puncak hari raya Cap Go Meh, kegiatan Sembahyang Rebut dan kegiatan
Pot Ngin Bun. Sejarah Pangkalpinang secara mendasar tidak dapat
dipisahkan dari pengaruh kekuasaan kekaisaran Tiongkok di Asia Timur dan
perebutan penguasaan atau eksploitasi terhadap biji timah oleh berbagai bangsa,
sebagai bukti dari kedua hal tersebut dapat dilihat dari monument hidup (Living
Monument) diantaranya Kelenteng yang tersebar hampir diseluruh pelosok kota
dalam ukuran besar dan kecil sesuai dengan fungsi dan penggunaannya, bentuk
bangunan rumah tinggal berarsitektur vernakuler Cina berikut dengan penataan
pemukiman yang dipisahkan dengan banyaknya gang gang sempit, tersebarnya makam-makam
tua orang Cina yang disebut Pendem Cina, Pemakaman Belanda (Kerkof),
ditemukannya berbagai keramik Cina (peninggalan Dinasti Qing tahun 19 M),
ditemukan ratusan meriam kuno tua terbuat dari besi dan perunggu misalnya yang
ada di depan rumah Dinas Walikota tahun 1840, dan di depan Polresta Pangkalpinang
tahun 1854. Bukti tertua tentang pengolahan timah ditemukan di situs Kota Kapur
Bangka, berdasarkan penelitian ditemukan terak atau limbah peleburan biji
logam, kapan asal zaman peleburan biji logam ini tidak di ketahui secara pasti
akan tetapi dari angka tahun Prasasti Kota Kapur diperkirakan pada tahun 686 M,
yang jelas tekhnologi Perundagian ini diperoleh oleh bangsa Indonesia dari
Dongson. Baru ada catatan yang jelas tentang penemuan timah di Bangka kira-kira
tahun 1709 M, kemudian tahun 1812 Inggris menguasai Bangka Belitung dan tahun
1814 dikuasai Belanda, dan sejak itu mulai dilakukan eksploitasi besar besaran
terhadap biji timah.
Sedangkan awal munculnya
etnis melayu di Pangkalpinnag adalah apabila kita telusuri dan amati dari
geografi provinsi kepulauan Bangka Belitung yang sudah kita ketahui bahwa
provinsi kepulauan Bangka Belitung dikelilingi wilayah-wilayah yang bersuku
melayu misalnya, Malaysia, Singapura, Thailand, Aceh, Minangkabau. Dari hal ini
kita dapat menyimpulkan bahwa suku melayu di Pangkalpinang sejak lama sudah
mendiami kota Pangkalpinang. Meskipun suku melayu adalah suku asli kota
Pangkalpinang dan tionghoa adalah pendatang namun masyarakat etnis tionghoa
sekarang ini dapat dikatakan bagian suku asli kota Pangkalpinnag, dikarenakan pada
saat bangsa cina atau tionghoa mendatangi kota Pangkalpinang mereka menikahi
wanita-wanita pribumi sehingga terciptalah generasi-generasi campuran antara melayu
dan tionghoa. Bahkan sekarang ini apabila kita telik kadang sulit membedakan
apakah itu keturunan melayu atau tionghoa. Karena mata yang sipit dan kecil
tetapi kulit hitam atau sebaliknya sedangkan etnis tionghoa dikenal dengan
matanya yang sipit dan kecil serta kulit putih bersih, berbanding terbalik
dengan etnis melayu yang berkulit lebih coklat. Namun itu semua bukanlah
penghalang bagi masyarakat kota Pangkalpinang untuk mempertahankan rasa
nasionalisme masyarakat melayu dan tionghoa Pangkalpinang. Sebagai bukti bahwa
masyarakat melayu dan tionghoa Pangkalpinang dapat bekerja sama adalah masyarakat
melayu Pangkalpinang memiliki sebutan sendiri untuk masyarakat tionghoa yaitu
“ace”, “ako”, yang berarti kakak
perempuan dan kakak laki-laki sedangkan “amoy” adalah sebutan untuk adik
perempuan dan “akew” adalah sebutan bagi adik laki-laki. Keselarasan yang sejak
lama terjalin baik itu dalam pekerjaan, sosial, budaya adalah hal yang patut
dipertahankan dan dijaga serta diajarkan bagi generasi-generasi selanjutnya.
Mengingat bahwa zaman telah berubah, diiringi dengan pola pikir orang zaman
dulu dan sekarang yang berubah secara signifikan, hal ini sangatlah penting
untuk menghindari adanya perpecahan antar suku bangsa terutama bagi keutuhan
dan kesatuan Negara Kesatuan Repubik Indonesia. Peran pemerintah dan lingkungan
masyarakat sangatlah penting dan dibutuhkan dalam hal ini serta memberikan
pendidikan sejak dini arti penting toleransi. 
No comments:
Post a Comment