Tuesday, 6 September 2016

Keselarasan dalam perbedaan














Di era modern seperti ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal Pangkalpinang, entah karena wawasan rakyat Indonesia yang minim atau pembangunan dan kreatifitas pemerintah dan masyarakat Pangkalpinang yang tidak berkembang sehingga kota Pangkalpinang bak tenggelam dalam permukaan. Mengapa dikatakan bak tenggelam dalam permukaan, karena hampir semua masyarakat baik itu lokal ataupun domestik tahu betul mengenai “laskar pelangi” yang merupakan sebutan untuk provinsi kepulauan Bangka Belitung. Padahal Pangkalpinang memiliki andil besar bagi pembangunan di provinsi kepulauan Bangka Belitung yang merupakan ibukota provinsi yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan,ekonomi,sosial dan budaya serta teknologi. Pentingnya keberadaan kota Pangkalpinang bagi provinsi kepualauan Bangka Belitung bukan hanya karena sebagai ibukota provinsi tetapi juga sebagai pusat pengembangan kebudayaan yang sudah berabad-abad lamanya mempertahankan budaya dan adat istiadat serta sebagai bukti bahwa etnis melayu dan tionghoa merupakan ikon bagi provinsi kepulauan Bangka Belitung terkhusus bagi kota Pangkalpinang. Jika masyarakat Indonesia lainnya yang beranggapan “miring” terhadap etnis tionghoa maka lain ceritanya dengan masyarakat melayu Pangkalpinang. Hal ini bukanlah semata-mata karena masyarakat melayu dan tionghoa Pangkalpinang sudah lama hidup berdampingan, melainkan karena mereka memiliki toleransi yang besar antara satu dengan yang lainnya, bahkan sejak dulu etnis tionghoa memiliki perkampungannya sendiri. Bukti lainnya bahwa kota Pangkalpinang memiliki “factor-x” adalah bisa dikatakan etnis melayu dan tionghoa merupakan jantung kota Pangkalpinang, mengapa demikian?, hal ini dikarenakan adat-istiadat dan budaya sudah mendarah daging dimasyarakat sehingga secara tidak sadar hukum adat dan budaya sudah berganti menjadi hukum bermasyarakat dan sosial dan uniknya lagi hal ini berjalan lurus dengan keseharian masyarakat tanpa ada masalah-masalah dan pertentangan yang ditimbulkan akibat peraturan “batin” tersebut. Hal ini tidak terlepas dari adanya sejarah awal kelahiran hingga berkembangnya etnis melayu dan tionghoa di Pangkalpinang. Karena tidak mungkin apabila suatu hal muncul begitu saja tanpa adanya sebuah sebab yang mendasari. Sebenarnya, banyak sekali pendapat para ahli dan sejarawan mengenai munculnya etnis melayu dan tionghoa di pangkalpinang, salah satunya adalah cerita yang fenomenal dikalangan masyarakat yaitu ketika Cheng Ho (Zheng He) (tahun 1371 – 1435 SM), seorang Muslim yang lahir di provinsi Yuan mengadakan perjalanan sebanyak 7 (tujuh) kali dalam 28 Tahun. Cheng Ho mengunjungi Gersik, Tuban, Lasem, Semarang, Jakarta, Palembang, Aceh dan Bangka, salah satu peninggalan ekspedisi Cheng Ho adalah teknologi pembuatan kapal atau perahu dan bangunan-bangunan yang berarsitektur China. Gelombang besar kedatangan bangsa Cina untuk mengeksploitasi timah di Bangka di mulai pada awal abad 20, banyak kongsi-kongsi dagang yang berdiri untuk menambang dan memperjual belikan timah, setiap kelompok atau kongsi memiliki pimpinan dan struktur sosialnya sendiri, mereka juga membawa kepercayaan asli darimana mereka berasal. Untuk melakukan pemujaan sesuai dengan aliran yang dianut mereka membangun Kelenteng, misalnya pada kelenteng Kwan Tie Bio. Pada Kelenteng tertua di Pangkalpinang ini terdapat hiasan buah Labu (Gourd) di puncak atap kelenteng dan adanya lambang Patkwa (Pakua) di depan kelenteng yang di tengahnya ada lingkaran hitam putih (Ying dan Yang), Patkwa (Pakua) melambangkan keberuntungan, rejeki atau kebahagiaan. Dua ciri di atas menunjukkan bahwa aliran Taoisme masih merupakan yang terpenting. Bukti kuat bahwa Cheng Ho datang kePangkalpinang adalah . Nama kelenteng sudah dua kali mengalami perubahan, pada masa Orde Baru kelenteng ini bernama Amal Bhakti. Pada tahun 1986 bagian depan kelenteng terkena pelebaran jalan sehingga pekarangan depan, pintu serta tembok depan mundur beberapa meter, bagian altar Kuan Tie tetap utuh dan bagian depan dibangun menjadi 2 lantai. Pada tahun 1991 bagian belakang kelenteng diubah menjadi tempat tidur petugas dan dapur. Pada Tanggal 22 Februari 1998 terjadi kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan kelenteng kecuali pada bagian kiri bangunan, sejak itu dilakukanlah pemugaran kembali dipimpin oleh Jamal seorang ahli dalam kelenteng dan pembuatan patung dan rehabilitasi selesai seperti bentuk sekarang serta diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1999 dengan nama kelenteng Kwan Tie Miau. Kelenteng ini diperkirakan dibuat pada tahun 1841 Masehi (dari aksara cina pada sebuah Lonceng besi di kelenteng). Pembangunannya sendiri dilakukan secara gotong royong oleh berbagai kelompok Kongsi penambangan timah yang ada di Pangkalpinang, dan diresmikan pada tahun 1846, hal ini terbukti dari ucapan selamat dari beberapa perkumpulan Kongsi pada hari baik bulan baik tahun ke- 26 Daoguang yang bertepatan dengan tahun 1846. Kawasan Kelenteng Kwan Tie Miaw ini sekarang ditambah dengan lokasi Gang Singapur dan Pasar Mambo yang sedang dikondisikan sebagai salah satu Objek wisata kota Pangkalpinang yaitu Wisata Budaya dan Wisata Belanja. Lokasi ini diupayakan menjadi China Town (untuk mengingatkan kepada wajah lama kota Pangkalpinang yang sangat dipengaruhi oleh rumah-rumah dan kelenteng Cina) dan dijadikan juga sebagai pusat upacara peringatan hari Raya Imlek, puncak hari raya Cap Go Meh, kegiatan Sembahyang Rebut dan kegiatan Pot Ngin Bun. Sejarah Pangkalpinang secara mendasar tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan kekaisaran Tiongkok di Asia Timur dan perebutan penguasaan atau eksploitasi terhadap biji timah oleh berbagai bangsa, sebagai bukti dari kedua hal tersebut dapat dilihat dari monument hidup (Living Monument) diantaranya Kelenteng yang tersebar hampir diseluruh pelosok kota dalam ukuran besar dan kecil sesuai dengan fungsi dan penggunaannya, bentuk bangunan rumah tinggal berarsitektur vernakuler Cina berikut dengan penataan pemukiman yang dipisahkan dengan banyaknya gang gang sempit, tersebarnya makam-makam tua orang Cina yang disebut Pendem Cina, Pemakaman Belanda (Kerkof), ditemukannya berbagai keramik Cina (peninggalan Dinasti Qing tahun 19 M), ditemukan ratusan meriam kuno tua terbuat dari besi dan perunggu misalnya yang ada di depan rumah Dinas Walikota tahun 1840, dan di depan Polresta Pangkalpinang tahun 1854. Bukti tertua tentang pengolahan timah ditemukan di situs Kota Kapur Bangka, berdasarkan penelitian ditemukan terak atau limbah peleburan biji logam, kapan asal zaman peleburan biji logam ini tidak di ketahui secara pasti akan tetapi dari angka tahun Prasasti Kota Kapur diperkirakan pada tahun 686 M, yang jelas tekhnologi Perundagian ini diperoleh oleh bangsa Indonesia dari Dongson. Baru ada catatan yang jelas tentang penemuan timah di Bangka kira-kira tahun 1709 M, kemudian tahun 1812 Inggris menguasai Bangka Belitung dan tahun 1814 dikuasai Belanda, dan sejak itu mulai dilakukan eksploitasi besar besaran terhadap biji timah.
          Sedangkan awal munculnya etnis melayu di Pangkalpinnag adalah apabila kita telusuri dan amati dari geografi provinsi kepulauan Bangka Belitung yang sudah kita ketahui bahwa provinsi kepulauan Bangka Belitung dikelilingi wilayah-wilayah yang bersuku melayu misalnya, Malaysia, Singapura, Thailand, Aceh, Minangkabau. Dari hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa suku melayu di Pangkalpinang sejak lama sudah mendiami kota Pangkalpinang. Meskipun suku melayu adalah suku asli kota Pangkalpinang dan tionghoa adalah pendatang namun masyarakat etnis tionghoa sekarang ini dapat dikatakan bagian suku asli kota Pangkalpinnag, dikarenakan pada saat bangsa cina atau tionghoa mendatangi kota Pangkalpinang mereka menikahi wanita-wanita pribumi sehingga terciptalah generasi-generasi campuran antara melayu dan tionghoa. Bahkan sekarang ini apabila kita telik kadang sulit membedakan apakah itu keturunan melayu atau tionghoa. Karena mata yang sipit dan kecil tetapi kulit hitam atau sebaliknya sedangkan etnis tionghoa dikenal dengan matanya yang sipit dan kecil serta kulit putih bersih, berbanding terbalik dengan etnis melayu yang berkulit lebih coklat. Namun itu semua bukanlah penghalang bagi masyarakat kota Pangkalpinang untuk mempertahankan rasa nasionalisme masyarakat melayu dan tionghoa Pangkalpinang. Sebagai bukti bahwa masyarakat melayu dan tionghoa Pangkalpinang dapat bekerja sama adalah masyarakat melayu Pangkalpinang memiliki sebutan sendiri untuk masyarakat tionghoa yaitu “ace”, “ako”,  yang berarti kakak perempuan dan kakak laki-laki sedangkan “amoy” adalah sebutan untuk adik perempuan dan “akew” adalah sebutan bagi adik laki-laki. Keselarasan yang sejak lama terjalin baik itu dalam pekerjaan, sosial, budaya adalah hal yang patut dipertahankan dan dijaga serta diajarkan bagi generasi-generasi selanjutnya. Mengingat bahwa zaman telah berubah, diiringi dengan pola pikir orang zaman dulu dan sekarang yang berubah secara signifikan, hal ini sangatlah penting untuk menghindari adanya perpecahan antar suku bangsa terutama bagi keutuhan dan kesatuan Negara Kesatuan Repubik Indonesia. Peran pemerintah dan lingkungan masyarakat sangatlah penting dan dibutuhkan dalam hal ini serta memberikan pendidikan sejak dini arti penting toleransi. 

No comments: